Langsung ke konten utama

Kebudayaan Jepang x Indonesia (maxims : mempercantik diri)







Tata Rias atau Make up merupakan suatu kegiatan mengubah penampilan seseorang dari bentuk asli sebenarnya dengan bantuan bahan dan alat kosmentik. Istilah make up lebih sering ditujukan kepada pengubahan bentuk wajah, meskipun sebenarnya seluruh tubuh dapat dihias atau make up. Fungsi tata rias sendiri adalah untuk menyempurnakan penampilan wajah, menggambarkan suatu karakter tokoh, atau menambah aspek dramatik sehingga terbentuk kesan tertentu.

Dari abad ke abad, wanita semakin peduli terhadap penampilan fisik. Banyak usaha yang dilakukan untuk mempercantik diri dan membuat wanita merasa lebih percaya diri. Dimulai dari cara yang sangat sederhana dan tradisional, kemudian berkembang secara perlahan, memformulasikan berbagai bahan dengan kualitas bagus dan aman untuk digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Kondisi tersebut membuat tata rias wajah atau make up menjadi salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan seorang wanita dari berbagai lapisan atau golongan masyarakat manapun demi meraih kecantikan.

Definisi kecantikan begitu beragam, memiliki ragam perspektif dan makna. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu perbedaan negara, bangsa, suku, kebudayaan, era dan preferensi masing-masing manusia serta tidak lepas dari perkembangan zaman. Knight Dunlap melalui Kevin Alfred Storm dalam American Dissident Voice (2004) menyatakan bahwa :

“Definisi kecantikan seseorang bervariasi dan berbeda antara ras yang satu dengan yang lain, sehingga konsep kecantikan tidak dapat dibandingkan. Kecantikan itu sendiri di ibaratkan sebagai sebuah mitos dan legenda.


 

Berbagai kisah tentang wanita yang cantik dan feminisme banyak diabadikan dalam berbagai bentuk disekitar kita. Tidak ada definisi pasti mengenai makna kata cantik dan kecantikan”

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki kebudayaan dan kebiasaan dalam mempercantik diri. Salah satu budaya tradisional masyarakat Jepang untuk mempercantik diri pada zaman dahulu yaitu dengan melakukan kebiasaan ohaguro. Ohaguro adalah sebuah kebiasaan mewarnakan gigi dengan warna hitam. Pewarnaan gigi pada umumnya dilakukan oleh wanita yang telah menikah, meskipun pria juga melakukannya.  

 

 

Ohaguro( お 歯 黒 ) merupakan praktik tradisional yang biasa dilakukan yaitu dengan cara menghitamkan gigi. Budaya ohaguro di Jepang dimulai sejak awal periode Kofun. Dalam temuan tulang dan tanah liat yang digali dari peninggalan zaman tersebut, ditemukan jejak gigi yang menghitam pada tengkoraknya yang mengisyaratkan tradisi panjang mengenai kebiasaan ini. Alasan mengapa budaya ohaguro lahir dan dilakukan pada zaman dahulu adalah karena sebuah kenyataan selama ratusan tahun bahwa benda-benda berwarna hitam pekat dianggap sangat cantik, sehingga wajar bila orang-orang zaman dahulu ingin lebih dekat dengan apa yang mereka anggapcantik.

                        Gambar 1.1. Geisha dengan praktik Ohaguro



 

Kebiasaan ini dilakukan pertama kali untuk merayakan usia seseorang. Anak perempuan dan anak laki-laki yang berusia sekitar 15 tahun, mewarnai gigi mereka pertama kalinya untuk menunjukkan bahwa mereka telah menjadi dewasa. Lalu, sekitar Akhir Periode Heian (794 sampai 1185), ohaguro juga dilakukan oleh


 

bangsawan tanpa memandang jenis kelamin setiap harinya. Ohaguro dilakukan dengan menggunakan larutan yang disebut kanemizu yang terbuat dari besi asetat dari serbuk besi yang dicampur dengan cuka dan tanin dari sayuran atau teh. Tanin bekerja pada protein gigi untuk memperbaiki, mencegah penyebaran bakteri, dan besi besi bekerja pada kalsium fosfat untuk meningkatkan ketahanan asamnya. Selanjutnya besi dihasilkan melalui oksidasi dengan udara yang digabungkan dengan tanin sehingga membentuk lapisan tipis besi tannat, yang menutupi permukaan dan melindungi gigi dari bakteri. Artinya, warna hitam gigi memperkuat struktur gigi baik dari aspek anorganik maupun organik gigi, dan menutupi permukaan dengan lapisan tebal untuk melindungi gigi.

        Gambar 1.2. Alat untuk melakukan Ohaguro


 


Selain gigi yang hitam, wajah yang dipoles putih juga menjadi sangat diminati saat periode Heian. Konon praktek menghitamkan gigi juga dapat memperkuat gigi dan melindungi dari gigi berlubang. Selain itu, praktik ini juga melambangkan kesetiaan pada tuannya bagi para samurai. Sayangnya, proses kosmetik yang memutihkan wajah ini biasanya membuat gigi nampak lebih kuning dari sesungguhnya. Untuk mengatasi masalah ini maka para wanita kemudian menghitamkan giginya.


 

Sebuah teori yang berasal dari pertukaran budaya pertama, mengklaim bahwa ohaguro dilakukan untuk mencegah wanita tersebut menipu suaminya, dan gigi hitam memang digunakan untuk membuatnya kurang menarik. Ilmuwan sosial Jepang modern mengabaikan teori ini, mereka menyatakan bahwa gadis dan wanita Jepang menikmati banyak kebebasan dalam kehidupan mereka dan menekankan tradisi asli ohaguro untuk menunjukkan kematangan seseorang.

 

Selama periode Edo di Jepang (tahun 1603 sampai 1868), ohaguro dipraktikan oleh wanita kaya yang telah menikah. Beberapa perwakilan praktik gigi hitam yang paling menonjol ada pada kalangan geisha. Bahkan apabila sekarang berjalan-jalan di Kyoto, tidak aneh apabila menemukan maiko dengan gigi hitam pekat.

Sepanjang sejarah, ohaguro telah disebutkan diberbagai sumber. Entah di dalam Genji Monogatari yang terkenal, atau dalam berbagai dongeng dan cerita rakyat, dimana seni menghitamkan gigi memegang peranan budaya yang menonjol dalam sejarah Jepang untuk waktu yang cukup lama. Tetapi dalam sejarah, gigi yang diwarnai dengan warna hitam telah menjadi simbol status di Jepang. Seiring dengan Jepang, kebiasaan ini juga menjadi praktik umum di beberapa negara lain termasuk Filipina, Laos, Vietnam, Thailand, India, dan China. Ada berbagai keperluan untuk menghitamkan gigi di negara tersebut, seperti sebagai bukti sudah menikah atau sudah dewasa, atau sekedar sebagai rasa kecantikan.

 

Namun, budaya ohaguro dilarang oleh pemerintah Meiji pada tahun 1870 dan seni mewarnai gigi seseorang kini telah hampir terlupakan. Sebagai upaya modernisasi, Pemerintah Jepang melarang praktek ohaguro. Hal ini diperkuat ketika Permaisuri Kaisar Jepang muncul di depan umum pada tahun 1873 dengan gigi putih. Hal ini menandakan akhir trend Ohaguro sebagai lambang kecantikan. Semasa periode Edo hingga awal periode Meiji berakhir, banyak orang Barat yang mulai mengunjungi Jepang. Mereka terkejut melihat wanita dengan gigi hitam yang luar biasa. Beberapa orang berpikir bahwa kebersihan


 

gigi orang Jepang sangat buruk, sementara yang lain menemukan bahwa mereka mengecat gigi mereka hingga hitam dengan pewarna dan bertanya- tanya mengapa wanita Jepang begitu repot membuat diri mereka terlihat jelek. Awalnya, orang barat menafsirkan praktik ini sebagai cara untuk membuat wanita yang sudah menikah terlihat jelek dan tidak bermaksud untuk menipu suami mereka. Namun, sosiolog Jepang modern menolak interpretasi ini. Wanita Jepang mengaku gigi mereka dihitamkan untuk menikmati kebebasan hidup mereka.

 

Satu-satunya penelitian mengenai pencarian fakta tentang gigi hitam dilakukan oleh Yoshimasa Nakamura, seorang dokter gigi yang membuka praktik di Prefektur Wakayama (Maret 1897: Laporan Bulanan Kelompok Studi Gigi No. 39). Menurut hasil survei delapan bulan dari Mei hingga Desember tahun 1892, 385 wanita menikah dengan memiliki gigi biasa dari 589 wanita yang mengunjungi rumah sakit, dan 274 memiliki gigi hitam, ia adalah seseorang yang telah berusia dan jumlahnya lebih dari 70%.

 

Gambar 1.3. Youkai Ohaguro Bettari (お歯黒べったりの妖怪)




 

Terdapat pula kepercayaan di Jepang, bahwa tidak peduli betapa cantiknya orang Jepang, ada kalanya lebih baik untuk menghindari mewarnai gigi menjadi hitam. Hal ini dikarenakan ada beberapa youkai di Jepang yang mengatakan bahwa gigi mereka berwarna hitam. Bahkan ketika melihat seorang wanita berkimono berdiri sendirian di halaman kuil atau kuil pada malam hari, jangan tertipu oleh keindahan punggungnya. Saat dia berbalik, pasti ada youkai menakutkan dengan mulut besar dan taring hitam tajam.

 

Gambar 1.4.Wanita Suku Mentawai


 


Sama halnya dengan Jepang, beberapa daerah di Indonesia memiliki budaya bagi para wanita untuk mempercantik diri. Salah satunya dimiliki oleh Suku Mentawai yang terletak di Kepulauan Mentawai pada bagian barat Pulau Sumatera. Bukan menghitamkan gigi, masyarakat Suku Mentawai memiliki kriteria untuk memiliki wajah cantik yaitu meruncingkan gigi dengan cara mengerik gigi dengan gabungan pisau kecil dan kayu (bisa juga besi), dan menghias tubuhnya dengan tato. Tradisi ini dipercaya oleh masyarakat suku Mentawai akan menambah tingkat kecantikan seorang wanita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal makanan khas tradisonal Jepang Washoku

  Washoku atau Nihonshoku adalah masakan khas Jepang yang menggunakkan bahan-bahan makanan yang diambil dari wilayah Jepang dan sekitarnya . Mengingat cara memasak dan menggunakan bahan makanan alami 、 masakan ini memenuhi syarat healthy food sehingga menarik perhatian masyarakat internasional . Diperkirakan pula menjadi salah satu rahasia panjang usia orang jepang. Masakan Washoku yang rendah kalori yang berbau bahan alami, sangat bermanfaat bagi kesehatan karena terdapat berbagai vitamin didalamnya. Masakan Washoku biasanya dihidangkan pada hari-hari tertentu dan pada hari-hari besar seperti Tahun Baru karena masakan ini melambangkan kebersamaan dan meningkatkan rasa kekeluargaan rakyat Jepang. Pada tahun 2013 lalu, washoku atau kuliner khas Jepang didaftarkan sebagai warisan budaya tak benda pada United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).  Sejarah Washoku ( 和 食 ) atau makanan khas Jepang telah ada sejak 15.000 tahun yang lalu di zaman ...

Generasi Menunduk

    Kemajuan Teknologi saat ini tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat. tentunya kemajuan teknologi ini sangat berpengaruh terhadap kebiasaan- kebiasaan masyarakat dalam peradaban dan kebudayaanya. Perubahan tersebut sangat meberikan dampak yang begitu besar terhadap masyarakat Indonesia . Saat ini sangat terlihat jelas bahwa dengan kemajuan teknologi telah mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat, terutama dikalangan remaja millennials. Generasi – generasi remeja millennials sangat kencaduan terhadap gawai. fenomena inilah yang sering disebut juga generasi nunduk . Fenomena generasi menunduk ini sangat mudah untuk kita jumpai dimanapun, mereka selalu menggengam gawai dan asyik mengoperasikannaya. Generasi menunduk sangat tampak pada kehidupan sosialnya. mereka seperti memiliki dua dunia , dunia nyata dan dunia maya. Pada kenyataan mereka yang kecanduan terhadap gawai biasanya sering menghiraukan orang disekitarnya. misalnya Ketika orang tersebut...